Perlukah Implementasi Kebijakan Pelabelan Baru dengan Sistem “Traffic Light” ?

Oleh : Yennie Rosyiani Wulansary, S.Si, Apt, M.Sc

 

Saat ini, prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) di Indonesia cenderung meningkat. Pola diet yang tidak sehat merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya PTM. Label pangan merupakan media yang memuat keterangan tentang nutrisi yang terdapat dalam produk pangan. Informasi nutrisi yang efektif pada label dapat membantu konsumen dalam memilih pangan yang sehat, serta mendukung pola diet yang sehat [1]. Telah diketahui bahwa informasi pada label dapat mempengaruhi daya beli konsumen. Dengan demikian, terdapat satu pertanyaan penting yaitu bagaimanakah sistem pelabelan dapat secara efektif mengkomunikasikan nilai gizi yang terkandung dalam produk kepada konsumen. Artikel ini akan membahas trend pelabelan pangan saat ini, menganalisa kemungkinan pengaruh label pangan dalam menyediakan informasi untuk hidup sehat sebagai upaya mencegah PTM, sehingga pada akhirnya dapat memberikan gambaran apakah Badan POM perlu menerapkan sistem pelabelan yang baru.

Label pangan merupakan keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan [2]. Umumnya, label terdiri dari bagian depan (Front of Pack, FOP) serta bagian belakang (Back of Pack, BOP) [3]. Bagian depan label atau FOP memuat informasi minimal yang wajib dicantumkan pada setiap label seperti nama jenis, berat/isi bersih, nama dagang (jika ada), serta nama dan alamat produsen. Bagian belakang label atau BOP memuat keterangan seperti komposisi, Informasi Nilai Gizi (ING), dan informasi lainnya. ING (nutrition fact) merupakan informasi yang menjadi wajib untuk dicantumkan, jika pada label pangan tersebut memuat pernyataan seperti klaim kandungan gizi atau klaim kesehatan. Bagi konsumen, ING merupakan media penting untuk memperoleh informasi zat gizi yang benar dan tidak menyesatkan. Dengan informasi tersebut, konsumen dapat melakukan pemilihan yang bijak terhadap produk pangan yang akan dibeli, terutama yang berhubungan dengan kandungan zat gizi di dalamnya. Pada saat yang sama, produsen pun memiliki kesempatan untuk menginformasikan keunggulan produknya dibandingkan produk lainnya [4]. Mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, dengan demikian label pangan dapat memberikan kontribusi positif terhadap gaya hidup sehat masyarakat. Informasi kandungan gizi pada label merupakan pendidikan penting serta media praktis untuk mempromosikan pilihan pangan yang lebih sehat [5].

 

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan, jumlah kasus terjadinya PTM di Indonesia mengalami peningkatan. PTM merupakan penyakit kronis yang tidak ditularkan dari orang ke orang. Empat jenis PTM utama menurut WHO antara lain penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan penyakit paru obstruksi kronis), serta diabetes [6]. Pada tahun 1990, angka kematian akibat PTM di Indonesia berada pada angka 37%. Angka tersebut terus mengalami kenaikan pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2000, kematian akibat PTM menjadi 49%. Selanjutnya pada tahun 2010 angka tersebut kembali meningkat menjadi 58%. Terakhir, hingga pertengahan tahun 2015, diketahui kematian akibat PTM telah mencapai 57%. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2013 diketahui bahwa mayoritas masyarakat masa kini hidup dengan gaya yang tidak sehat. Hal ini ditandai dengan sebanyak 36,3% penduduk di atas usia 15 tahun ialah perokok, dan 93,5% penduduk di atas usia 10 tahun kurang mengkonsumsi buah dan sayur. Sebagai tambahan, sebanyak 26,1% penduduk kurang beraktivitas fisik dan 4,6% mengkonsumsi alkohol [7]. Salah satu faktor utama penyebab PTM adalah pola makan dan diet yang tidak sehat seperti konsumsi makanan dengan tinggi kalori, tinggi kandungan lemak, gula dan garam yang dapat menyebabkan obesitas, diabetes, hiperlipidemi, hipertensi, stroke, dan lainnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan upaya pencegahan PTM dengan cara meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk bergaya hidup sehat, salah satunya melalui penyediaan informasi pangan yang sehat pada label pangan.

Trend Pelabelan Saat Ini
Umumnya seorang konsumen hanya memerlukan waktu beberapa detik dalam menentukan pilihan produk yang akan dibelinya, sehingga label FOP menjadi hal penting dalam membantu konsumen untuk memilih produk pangan. Hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa umumnya konsumen memiliki kesulitan dalam memahami informasi baik yang tercantum pada label FOP maupun BOP [8], khususnya bagi konsumen lanjut usia [5], serta konsumen yang berpendidikan rendah [3]. Studi di United States dan Canada telah mengevaluasi beberapa alternatif desain pelabelan produk pangan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa label FOP harus memiliki desain yang jelas dan ringkas [9], serta memiliki format yang mudah dipahami. FOP harus memberikan informasi mengenai jumlah zat gizi utama (key nutrient) seperti lemak total, lemak jenuh, gula, dan natrium, serta energi. Label FOP juga harus memiliki warna dan tulisan yang mengindikasikan level kesehatan dari produk pangan tersebut [3]. Berikut beberapa desain pelabelan produk pangan saat ini :

? Sistem Angka Kecukupan Gizi (AKG) merupakan pelabelan FOP yang digunakan di United States, Inggris, dan beberapa negara lain di Eropa. Sistem tersebut mencantumkan jumlah beberapa zat gizi per saji, serta persentase AKG sesuai dengan yang dicantumkan pada tabel ING pada label BOP. Sistem ini merupakan versi tabel ING yang telah disederhanakan [3].

? Logo Bintang (Guiding stars) merupakan label FOP yang lebih sederhana dengan menampilkan ringkasan nilai kesehatan produk tersebut secara keseluruhan dengan logo bintang. Produk yang lebih sehat ditunjukkan dengan logo bintang yang lebih banyak. Setiap pangan akan memiliki nilai mulai dari 0 hingga 5 bintang berdasarkan nilai kesehatan secara keseluruhan. Namun, format ini kurang informatif jika dibandingkan dengan sistem traffic light [3].