FAQs Hasil Uji Laboratorium

Pengujian yang dilakukan dan hasil uji yang diterbitkan harus dari laboratorium terakreditasi baik di dalam maupun luar negeri atau laboratorium pemerintah.

Boleh, dengan melampirkan data dukung sertifikat akreditasi laboratorium oleh lembaga akreditasi yang sah dari negara masing-masing yang masih berlaku.

1. Hasil uji yang dilampirkan harus asli dan masa berlaku sesuai dengan yang tercantum pada hasil uji atau paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal penerbitan.
2. Hasil uji harus mencantumkan dengan jelas:
  a. nama pangan yang didaftarkan,
  b. nama dan alamat produsen yang tercantum pada hasil uji harus sesuai dengan nama dan alamat produsen yang tercantum dalam data pendaftaran.
  c. parameter uji, hasil uji, dan satuannya sesuai dengan persyaratan.

Parameter uji meliputi :
• Cemaran mikroba.
• Cemaran logam berat (Arsen, Merkuri, Timbal, Kadmium, dan Timah).
• Bahan tambahan pangan secara kuantitatif, untuk pangan yang menggunakan BTP yang memiliki persyaratan Batas Maksimum numerik/ADI.
• Parameter mutu sesuai karakteristik dalam kategori pangan.
• Semua parameter dalam SNI, untuk produk yang wajib SNI.
• Zat gizi sesuai Informasi Nilai Gizi, untuk pangan yang mencantumkan informasi nilai gizi pada label.
• Zat gizi/non gizi sesuai klaim, untuk pangan yang mencantumkan klaim pada label.
• Alkohol, untuk pangan yang mengandung atau menggunakan alkohol.
• Kafein, untuk pangan yang menggunakan/ditambahkan kafein anhidrat.
• Kloramfenikol, untuk madu.
• Melamin, untuk formula bayi.
• Aflatoksin total dan aflatoksin B1 untuk hasil olah jagung, kacang tanah, dan bumbu-bumbu (spices). Aflatoksin M1 untuk susu.
• Okratoksin A (OTA) untuk produk berbasis serealia dan produk kopi.
• Patulin untuk produk apel dan hasil olahnya.
• Benzo(a)piren, untuk perisa asap dan pangan yang diproses asap.
• Bobot tuntas, untuk pangan padat yang memiliki media cair (sekurang-kurangnya dapat dilakukan di laboratorium internal).

a. BTP yang memiliki batas maksimum wajib diuji. Atau jika tidak bisa diuji, agar mengupload surat keterangan minimal dari 2 laboratorium terakreditasi bahwa BTP tersebut tidak bisa diuji.
b. BTP yang ada di bahan baku (BTP carry over) dan diatur batas maksimum di produk akhir, agar dicantumkan kadarnya di spesifikasi atau diuji kadarnya di produk akhir.
c. BTP yang batas maksimumnya CPPB, mempunyai ADI maupun tidak mempunyai ADI, tidak perlu dilakukan pengujian.
d. BTP yang mempunyai batas maksimum, tetapi tidak ada ADI, tidak perlu diuji, kecuali antioksidan, pengawet, pewarna, dan pemanis buatan. Kesesuaian kadar dilihat dari komposisi.

Hasil uji yang harus berbeda adalah hasil uji Cemaran Logam dan Cemaran Mikroba. Sedangkan hasil uji yang diperbolehkan sama adalah hasil uji BTP dan Zat Gizi (ING).

Boleh

a. Tidak wajib, tergantung perubahan yang diajukan. Selain perubahan komposisi tidak perlu diuji cemaran mikroba dan logam.
b. Jika perubahan komposisi berupa penambahan bahan baku baru, wajib dilakukan pengujian cemaran mikroba.
c. Jika tidak ada bahan baku baru, hanya mengubah kadar bahan baku, tidak perlu dilakukan pengujian cemaran mikroba.
d. Jika menambahkan BTP baru, atau mengubah kadar BTP, wajib dilakukan pengujian kadar BTP.

Jika perubahannya tidak terkait zat gizi, tidak perlu dilakukan pengujian zat gizi. Jika perubahan komposisi mempengaruhi zat gizi (gula, garam, sumber karbohidrat seperti tepung, dll), agar dilakukan kembali pengujian zat gizi (lengkap, sesuai yang dicantumkan di label).

Perubahan komposisi yang wajib melakukan pengujian ulang adalah:
a. Jika perubahan komposisi menambahkan bahan baku baru (sebelumnya tidak ada) maka harus menguji cemaran mikroba. Tetapi jika tidak ada bahan baku baru dan hanya mengubah kadar bahan baku maka tidak perlu dilakukan pengujian cemaran mikroba.
b. Jika menambahkan BTP baru atau mengubah kadar BTP, maka harus menguji kadar BTP yang ditambahkan atau diubah kadarnya.
c. Jika penambahan bahan baku baru mempunyai nilai gizi maka harus menguji zat gizi baru (jika pada label terdapat Tabel ING).

Hasil olah jagung, kacang tanah, susu dan rempah -rempah bubuk. Untuk batasan maksimum kadar aflatoksin pada masing-maisng produk mengacu ke PerKa BPOM Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dan Kimia Dalam Makanan.

Batas toleransi kadar etanol +/- 2%

Tidak wajib dicantumkan pada detil input tambahan, namun jika dicantumkan diperbolehkan. Hasil analisa diupload dan diserahkan sebagai bukti bahwa perusahaan telah melakukan pengujian.

Sesuai pengumuman tentang deregulasi persyaratan pendaftaran, maka hasil uji air baku sudah tidak dipersyaratkan untuk pendaftaran produk AMDK.

Perlu, karena sensitivitas masing- masing alat berbeda.

a. Boleh, karena cemaran baik mikroba dan logam lebih dipengaruhi oleh teknologi pangan yang digunakan perusahaan. Dikecualikan untuk produk dalam kemasan kaleng, perlu dilakukan pengujian Timah (Sn).
b. Boleh. Perbedaan mesin pencetakan pangan tidak mempengaruhi cemaran secara signifikan.
c. Boleh. Asalkan hasil uji menggunakan hasil analisa daging slice.
d. Boleh.
e. Boleh jika menggunakan perisa/ pewarna, tetapi jika menggunakan bahan alami (contoh kunyit, pandan) sebagai perasa harus tetap dilakukan pengujian cemaran mikroba tersendiri.
f. Boleh
Tambahan:
Pada pendaftaran variasi perubahan komposisi dengan penambahan/perubahan BTP tidak perlu diminta hasil uji cemaran mikroba.

a. Tidak bisa, karena tidak ada konversi dari APM ke koloni. Metode analisa keduanya juga berbeda, APM Koliform dilakukan dengan uji tabung (sehingga angka yang dihasilkan adalah perkiraan tumbuhnya cemaran) sedangkan Angka koliform (koloni/ml) dilakukan dengan metode spread plate (hasilnya pasti).
b. Tidak
c. Tidak sama, karena “tidak terdeteksi” merupakan pengujian secara kuantitatif, sedangkan hasil “negatif” menunjukkan hasil pengujian identifikasi secara kualitatif. Tetapi jika dapat dipastikan bahwa hasil pengujian memang tidak ditemukan adanya cemaran mikroba sama sekali maka hasil negatif sama saja (bisa dinyatakan sebagai) dengan tidak terdeteksi.
d. Sama,
e. Boleh, karena pada prinsipnya apapun jenisnya cemaran Salmonella tidak boleh diizinkan ada dalam pangan olahan sama sekali.
f. Tidak boleh, karena pada pengujian Clostridium perfringens menggunakan metode yang berbeda dan media yang lebih spesifik. Jika dikatakan sama dikhawatirkan adanya “false negative result”. Artinya hasil uji negatif pada genus (Clostridium spp) belum tentu sama dengan Clostridium perfringens negatif. Prinsip ini berlaku juga untuk bakteri spesifik lainnya seperti Staphylococcus aureus, Listeria Monocytogenes, Vibrio parahaemolyticus, dan Bacillus cereus.
g. Boleh. Karena sampel lebih banyak, dan hasil analisa koloni/10g sudah mewakili hasil analisa koloni/g.