FAQs Komposisi

a. Jika menggunakan Bahan Tambahan Pangan (BTP) harus dilengkapi dengan jumlah bahan yang digunakan dan fungsi (golongan BTP).
b. Untuk BTP pewarna juga harus mencantumkan nomor indeks (CI.......)
c. Jika menggunakan bahan baku dan BTP yang mengandung BTP ikutan (carry over), harus melampirkan/mengunggah spesifikasi bahan tersebut yang menyatakan jenis dan kadarnya.
d. Jika menggunakan BTP yang terdiri atas beberapa jenis BTP harus melampirkan/mengunggah spesifikasi yang menyatakan jenis dan kadar setiap BTP penyusunnya.
e. Jika menggunakan BTP perisa harus melampirkan/mengunggah spesifikasi yang menyatakan kelompok perisa (alami/identik alami/artifisial).

Bahan yang terdiri dari beberapa bahan penyusun, harus mencantumkan semua bahan penyusun tersebut termasuk BTP. Misalnya pangan yang mengandung kecap, harus disertai dengan penjelasan bahan penyusun kecap.

Pendaftar mengupload komposisi gabungan dan komposisi masing-masing, namun yang diinput pada sistem adalah komposisi gabungan.

Jika menggunakan konsentrat atau sari buah, harus melampirkan spesifikasi bahan tersebut yang menyatakan derajat Brix.

Jika menggunakan bahan baku madu, harus melampirkan spesifikasi bahan tersebut yang menyatakan kandungan kloramfenikol atau hasil analisa kloramfenikol pada produk akhir.

Untuk bahan baku dan BTP yang berasal dari hewan atau tanaman harus mencantumkan nama bahan diikuti asal bahan tersebut (hewani atau nabati). Jika berasal dari hewan, harus disertai dengan jenis hewan misalnya daging sapi, lemak babi.

• Penambahan taurin harus dikaji terlebih dahulu pada tiap-tiap produk. Kajian dilakukan oleh Direktorat Standardisasi Pangan Olahan.
• Penambahan inositol pada produk untuk kelompok umur 0-3 tahun batas maksimumnya 100% ALG sesuai PerKa BPOM Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Acuan Label Gizi. Selain produk untuk kelompok umur 0-3 tahun harus dikaji terlebih dahulu oleh Direktorat Standardisasi Pangan Olahan.
• Batas maksimum Kafein sebagai akibat dari penambahan perisa dan/atau penambahan langsung pada Makanan dan Minuman adalah 50 mg/sajian atau 150 mg/hari.

• Jika bahan baku tersebut lazim digunakan pada produk pangan, maka cukup mengajukan penambahan bahan baku pada master bahan baku di Direktorat Registrasi Pangan Olahan.
• Jika bahan baku tersebut tidak lazim digunakan pada produk pangan, maka harus mengajukan kajian ke Direktorat Standardisasi Pangan Olahan. Proses penilaian tetap berjalan paralel di Direktorat Registrasi Pangan Olahan.

Disesuaikan dengan ketentuan pada Peraturan tersebut, yakni :
Pasal 9
(1) Bahan Penolong atau Pangan yang mengandung Bahan Penolong harus memenuhi persyaratan label pangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Jenis Bahan Penolong Golongan Enzim yang telah diatur penggunaannya sebagai BTP, persyaratan label mengikuti ketentuan Peraturan perundang-undangan.
Pasal 10
(1) Selain harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Bahan Penolong golongan Enzim wajib mencantumkan:
    a. tulisan “Bahan Penolong”;
    b. nama golongan Bahan Penolong;
    c. nama jenis Bahan Penolong dan nomor Enzyme Commission (EC); dan
    d. sumber jenis Bahan Penolong;
(2) Untuk Bahan Penolong golongan Enzim yang menggunakan Penjerap Enzim selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan nama jenis Penjerap Enzim.
(3) Pangan yang mengandung Bahan Penolong tidak wajib mencantumkan jenis dan golongan Bahan Penolong di dalam daftar bahan penyusun/komposisi bahan pada label.

Perubahan supplier bahan baku/mengganti spesifikasi bahan termasuk perubahan komposisi.

PTidak ada batasan persentase bahan baku baru yang ditambahkan pada perubahan komposisi sehingga semua harus tetap dilakukan analisa cemaran mikrobanya.

PPerubahan komposisi pada pangan steril komersil tetap memerlukan data F0 (angka kecukupan panas). Untuk perubahan berat bersih pada pangan steril komersil in container juga memerlukan data F0