Seminar dan Konsultasi Publik
dalam rangka Peringatan Hari Kemanan Pangan Sedunia 2024
“Transformasi Digital Badan POM: Mengintegrasikan Kecerdasan Buatan dalam Sistem Registrasi Pangan Olahan, Tingkatkan Daya Saing Usaha”
Jakarta, 4 Juli 2024
Kerjasama antara Direktorat Registrasi Pangan Olahan Badan POM dan Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional, BRIN
Acara Hari Keamanan Pangan Sedunia atau World Food Safety Day (WFSD) 2024 diawali dengan pembukaan kegiatan secara umum oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI, L Rizka Andalusia. Ia menyampaikan bahwa tema WFSD 2024 bertujuan memberikan perhatian terhadap krisis-krisis tak terduga yang dapat mengancam keamanan pangan. Ia juga menambahkan bahwa penanganan cepat dan peran aktif dari semua sektor diperlukan untuk mengatasi krisis keamanan pangan tersebut. Karena pada dasarnya, keamanan pangan adalah urusan tanggung jawab kita semua.
Sebagai rangkaian acara memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia atau World Food Safety Day (WFSD), Direktorat Registrasi Pangan Olahan Badan POM bekerjasama dengan Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional, BRIN menyelenggarakan seminar dan konsultasi publik yang bertema: “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan Dalam Pengawasan Pre-Market Pangan Olahan”. Menghadirkan enam pembicara nasional dan internasional, seminar ini diharapkan mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan atas upaya BPOM mengadopsi kecerdasan buatan untuk mendukung keamanan pangan nasional yang sejalan dengan tema WFSD 2024 tentang “prepare for the unexpected” kesiapsiagaan dalam menghadapi insiden keamanan pangan.
Acara Seminar diawali oleh sambutan selamat datang dari Direktur Registrasi Pangan Olahan-BPOM, Sintia Ramadhani, S.Si., Apt., M.Sc., yang dalam sambutannya menekanan peranan registrasi pangan sebagai salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan keamanan pangan atas pengawasan keamanan mutu dan gizi yang terkandung di dalamnya. Ia menyinggung mengenai peluang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau disingkat AI) untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan penyimpangan atas mutu dan keamanan produk olahan pangan, serta memitigasi terhadap insiden keamanan pangan.
Selanjutnya Keynote speech dari Asisten Deputi Perumusan Kebijakan dan Koordinasi Penerapan SPBE-KEMENPAN RB, bapak Cahyono Tri Birowo yang menyampaikan upaya BPOM mengadopsi AI akan mengakselerasi transformasi digital BPOM dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Beliau menilai BPOM memiliki modal yang kuat, khususnya dengan indeks SPBE 4,08 dengan predikat “Sangat Baik”, dan komitmen pelayanan yang tinggi sehingga sangat memungkinkan BPOM untuk mengadopsi AI.
Pada sesi presentasi panel enam pembicara diawali dengan paparan dari Kepala Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Badan POM, Bapak A Indra Jaya S, S.Kom., M.Kom, tentang cetak biru transformasi digital Badan POM. Pak Indra menekankan capaian-capaian BPOM dalam penggunaan PDN dan digitalisasi proses pendaftaran pada 66 layanan perizinan BPOM. e-Registration pada Direktorat RPO-BPOM telah menjadi pioneer sejak 2012 dengan proses registrasi berbasis digital 100%.
Dilanjutkan paparan kedua oleh Bahtiar Rifai, Ph.D, Head of Research Group for Knoweldge-Based Economy BRIN yang sekaligus sebagai ketua tim peneliti riset kolaborasi BPOM-BRIN menyampaikan beberapa poin sebagai berikut: 1) indeks keamanan pangan Indonesia bernilai 60,2 atau urutan 63 dari 113 negara dan masih lemah di aspek ketersediaan, kualitas dan keamanan serta keberlanjutan dan adaptasi. 2) Kesiapan BPOM dalam mengadopsi AI untuk e-Reg RBA berada pada level Potensial (2) dari empat skala kesiapan. BPOM memiliki kekuatan pada pilar Data dan Infrastrukur, Teknologi dan Inovasi, serta SDM dan budaya organisasi yang mencapai kematangan pada level Adaptor (3). Dengan kekuatan tersebut BPOM sangat memungkinkan untuk mengadopsi AI dalam pengambilan keputusan untuk mengeluarkan nomor ijin edar (NIE) melalui checking kelengkapan dokumen, keabsahan/ kebenaran dokumen dan simulasi rekomendasi hasil evaluasi. 3) Untuk mewujudkan adopsi AI di BPOM, Bahtiar menekankan kebutuhan investasi yang cukup besar infrastruktur TIK untuk pengembangan AI, transformasi SDM dan budaya agar dapat sinergis antara teknologi dan manusia, serta penyiapan regulasi, AI ethics dan data security.
Pembicara ketiga, adalah Bapak Jarot UW Susanto, analis senior Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen-Bank Indonesia (BI). Beliau memaparkan peranan Bank Indonesia khususnya melalui Kantor-kantor perwakilan BI di daerah dalam menyiapkan UMKM untuk memenuhi ijin edar melalui peningkatan kapasitas usaha, workshop keamanan pangan, penguatan administrasi, pendampingan dan permodalan agar sesuai standar Badan POM.
Secara daring, hadir tiga pembicara internasional seperti FAO (Food and Agriculture Organisation), Griffith University, Australia dan Southampton Univesity, Inggris untuk pembelajaran praktik baik penggunaan AI secara global untuk Indonesia. Bapak Rajendra Aryal selaku FAO representative untuk Indonesia dan Timor-Leste menjelaskan peran dari AI untuk mengantisipasi kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan logam berat yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia dan menekankan kolaborasi antara pemerintah, industri, masyarakat dan operator bisnis. Sementara Professor Dian Tjondronegoro dari Griffith University menjelaskan perkembangan penggunaan AI untuk tracing distribusi pangan, dan analisa proyeksi secara nasional serta penggunaan teknologi OCR untuk pengawasan post-market. Sementara Dr. Nunung Nurul, Associate Professor dari Universitas Southampton menekanan pada aspek keamanan data dan kesiapan dari para pengguna sistem berbasis AI sehingga AI dapat bekerja optimal membantu manusia. Beliau mengingatkan pentingnya pendekatan ekosistem agar AI dapat bekerja bersama manusia, bukan sebaliknya justru menimbulkan masalah baru di kemudian hari seperti isu keamanan data, pengambilalihan kekuasaan dari manusi ke robot.
Sebagai penutup, Kepala OR TKPEM BRIN, Dr. Agus Eko Nugroho menyampaikan upaya digitalisasi melalui adopsi AI akan memperkuat sistem keamanan pangan nasional yang akan berdampak secara langsung pada kualitas SDM, pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, kesehatan hingga isu keamanan. Beliau mendorong partisipasi aktif dan kolaborasi sinergis multi pihak, khususnya Kementerian Lain, Bank Indonesia, Pihak Swasta, Organisasi Internasional dan Nasional untuk dapat mewujudkan upaya Badan POM untuk mengadopsi AI guna mendukung daya saing industri dan keamanan pangan.